Connect with us

Sosok

Kisah Abu Thalhah dan Mahar Keislaman

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Salah seorang sahabat Rasulullah bernama Zaid bin Sahl, punya kisah unik saat memeluk Islam.

Dia adalah adalah seorang sahabat Anshar yang mempunyai suara keras menggelegar yang dikenal dengan nama Abu Thalhah.

Lelaki tampan dan kaya ini, ketika belum memeluk Islam, berencana meminang Ummu Sulaim, seorang janda yang sudah mempunyai anak, yang sangat teguh keislamannya. Ketika ia mengajukan lamaran kepada Ummu Sulaim, ia mendapat jawaban yang mengejutkan, “Wahai Abu Thalhah, demi Allah tidak ada wanita yang akan menolak lamaran orang yang sepertimu. Tetapi aku seorang wanita muslimah dan engkau seorang yang kafir, karenanya aku tidak dibenarkan menikah denganmu. Jika engkau mau, masuklah kamu ke dalam agama Islam, dan itulah mahar yang kuminta, dan aku tidak akan meminta mahar yang lainnya lagi!”

Sebenarnya akan lebih mudah bagi Abu Thalhah jika mahar yang diminta adalah uang, perhiasan, kebun atau harta lainnya, yang umumnya sangat disukai wanita, tetapi ini “keyakinan”nya? Cukup lama ia menimbang-nimbang, tetapi ternyata kehendak Allah menggiringnya untuk memperoleh hidayah lewat jalan pernikahan ini.

Ia menyetujui permintaan Ummu Sulaim. Ia menikah dengan mahar keislamannya. Dan ternyata kemudian ia menjadi salah seorang sahabat Anshar yang terpandang, saleh dan dermawan.

Seorang sahabat bernama Tsabit berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang perempuan yang mahar pernikahannya lebih utama daripada mahar Ummu Sulaim ketika dinikahi Abu Thalhah.”

Pernah suatu ketika ia sedang mendirikan shalat di kebunnya yang hijau, tiba-tiba terlihat seekor burung yang tersesat di antara rimbunan daun-daun, matanya mengikuti gerak-gerik burung tersebut sehingga ia lupa dengan jumlah rakaat shalatnya. Ia sangat menyesal dengan kelalaiannya ini, usai shalat ia menemui Nabi SAW, ia berkata, “Ya Rosulullah, aku telah tertimpa musibah karena kebunku, karena itu kebun itu kuserahkan untuk Allah. Silahkah engkau pergunakan sesuai keinginan engkau.”

Abu Thalhah merupakan sahabat Anshar yang memiliki kebun-kebun terbaik dan terbanyak di kota Madinah. Salah satu kebun terbaik dan terindah yang dimilikinya, terletak tidak jauh dari masjid Nabi SAW. Di dalamnya terdapat air telaga yang sangat menyegarkan. Rosulullah SAW sering mengunjungi kebun tsb. dan meminum air telaganya. Kebun ini dikenal dengan nama ‘Birha’. Ketika turun ayat Al Qur’an Surah Ali Imran 92,”Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Abu Thalhah bergegas menemui Nabi SAW, dan berkata, “Ya Rosulullah, saya sangat mencintai Birha, karena Allah telah memerintahkan untuk menyedekahkan harta yang paling dicintai, maka saya serahkah Birha ini untuk dibelanjakan di jalan Allah SWT, sebagaimana yang dikehendaki-Nya.”

“Inilah salah satu pemberian yang mulia di sisi Allah,” Kata Rosulullah SAW dengan penuh gembira, “Tetapi menurut pendapatku, akan lebih bermanfaat jika engkau membagikan kebun itu kepada kerabatmu sendiri.”
Abu Thalhah menerima nasehat Nabi SAW dan membagikan kebun tersebut pada kaum kerabatnya yang tidak mampu dan membutuhkan.

(IMF/foto: Cahaya Islam)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok