Connect with us

Sosok

Ketika Umar Bin Khatab Dikritik Rakyatnya

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Menyampaikian kritik kepada penguasa dalam pandangan Islam ternyata hal yang dianjurkan. Bahkan ada hadits yang menyebutikan “Sampaikanlah walaupun pahit” dan hadits sejenis yang intinya mengajak umat Islam menyampaikan kritik bahkan kepada penguasa sekalipun.

Maka tidak mengherankan apabila sejarah Islam sering diwarnai konflik antara penguasa dan ulama.

Namun, salah satu peristiwa paling terkenal adalah saat Khalifah Umar bin Khatab yang tidak lain adalah sahabat Rasulullah, diktrik oleh seorang perempuan setelah menyampaikan ketentuan tentant uang mahar.

Kisah ini diabadikan dalam kitab tafsir Ad Durrul Mantsur fi Tafsiril Ma’tsur karya Syeikh Jalaluddin As Suyuthi. Kisah itu dikutip pada bab penjelasan Surat An Nisa ayat 20.

Suatu hari, Khalifah Umar naik ke atas mimbar. Dia lalu berpidato di hadapan khalayak ramai.

” Wahai orang-orang, jangan kalian banyak-banyak dalam memberikan mas kawin kepada istri. Karena mahar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya sebesar 400 dirham atau di bawah itu. Seandainya memperbanyak mahar bernilai takwa di sisi Allah dan mulia, jangan melampaui mereka. Aku tak pernah melihat ada lelaki yang menyerahkan mahar melebihi 400 dirham.”

Rupanya beleid ini tidak disetujui oleh sebagian kaum perempuan. Maka, usai menyampaikan keterangan, datanglah seorang perempuan menyampaikan protes.

” Hai, Amirul Mukminin, kau melarang orang-orang memberikan mahar kepada istri-istri mereka lebih dari 400 dirham?” protes wanita itu.

” Ya,” jawab Khalifah Umar.

” Apakah kau tidak pernah dengar Allah menurunkan ayat (melafalkan penggalan ayat 20 Surat An Nisa),” kata wanita itu.

Umar tersentak sambil berkata, ” Tiap orang lebih paham ketimbang Umar.”

Menyadari kekeliruannya, Umar kembali naik mimbar dan menyampaikan pernyataan yang telah direvisi sesuai kritik yang disampaikan rakyatnya.

Kisah tentang umat yang mengeritik para khalifah bukanlah sekali terjadi, namun cukup sering. Meski pun khalifah itu para sahabat Nabi yang disebut khulafaur Rasyidin, tapi tetap saja, ketika ada sikap dan perkataan yang bertentangan, umat Islam tak boleh tinggal diam. Bahkan hal itu menjadi bagian dari “amar maruf nahyi munkar”.

(IMF/foto: istimewa)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok