Connect with us

Khazanah

Ketika Islam Memberi Warna Jazz Amerika

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Amerika Serikat mengenal sebuah era ketika hak-hak sipil warga negara diperjuangkan dengan sepenuh kekuatan. Periode yang terbentang antara tahun 1950-1970. Mereka berjuang melawan dominasi kulit putih secara terbuka melalui demonstrasi, perlawanan di pengadilan hingga musik jazz. Dari sinilah nama-nama seperti Malcolm X, Mohammad Ali dan Marthin Luther King Jr muncul.

Pada saat yang bersamaan, muncul pula generasi musisi yang didominasi kulit hitam membawa genre jazz namun meyakini Islam sebagai satu-satunya keyakinan yang membebaskan dan simbol perlawanan. Mereka menganut Islam, rata-rata atas dasar dogma bahwa Islam mengajarkan persamaan manusia di depan Tuhan.

Di era inilah muncul musisi-musisi jazz seperti Kenny Clark, Art Blakey (Abdullah ibn Buhainah), Sahib Shihab, Gigi Gryce, Idrees Sulieman, Ahmad Jamal, dan Yusef Lateef.

kehadiran mereka di kancah musik jazz Amerika Serikat justeru diterima warga secara umum. Barangkali karena musik tak lagi mengenal ras dan warna kulit. Namun jelas para musisi itu membawa simbol-simbol perdamaian Islam. Beberapa di antara para musisi itu bahkan secara sengaja datang ke negara-negara Afrika Barat untuk mempelajari musik sekaligus memperdalam Islam.

Tidak heran, musisi yang baru menemukan identitas agama itu, membawa nilai-nilai spritualitas Islam dalam bermusik. Yusuf Lateef, misalnya, yang sering tampil dengan membawa alat-alat tiup tak ketinggalan pula memainkan alat-alat musik dari negara-negara Afria Barat.

Namun pada saat yang bersamaan, Islam diyakini memberikan semangat perlawanan. Art Blakey, misalnya, dalam wawancara pada tahun 1963 mengatakan bahwa Islam yang baru dia anut menentang minuman beralkohol, yang selama ini selalu disematkan pada kaum kulit hitam yang suka mabuk. ‘Ini (Islam) merupakan cara hidup baru yang membebaskan, tapi sekaligus juga merupakan pemberontakan..”kata Blakey, legenda jazz Amerika yang juga memperdalam drum di Afrika.

(IMF/foto:wikipedia)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah