Connect with us

Masjid

Inilah Khutbah Lengkap Ustadz Yusuf Mansur di Istiqlal

[JAKARTA, MASJIDUNA] – Khatib salat idul adha yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Minggu (11/8/2019) disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur’an Tangerang, Banten.

Berikut isi lengkap khutbah Ustadz Yusuf Mansur yang disampaikan dalam khutbah idul adha di Masjid Istiqlal Jakarta:

“SPIRIT BERKURBAN UNTUK KESEJAHTERAN UMAT”

Oleh: Ustadz Yusuf Mansur

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله ُأَكْبَرُ  الله ُأَكْبَرُ  الله ُأَكْبَرُ 3x كَبِيْرًا, وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ, لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْناً ، وَأَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ جَعَلَ حَجَّ اْلبَيْتَ مِنَ الشَّرِيْعَةِ رُكْناً وَصَرَّفَ وُجُوْهَنَا اِلىَ قِبْلَتِهِ فَكَانَ ذَالِكَ مِنْ نِعْمَةِ اْلعُظْمىَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ مَنْ طَافَ بِاْلبَيْتِ اْلعَتِيْقِ ذَاكِرًا أًسْمَآءَ رَبِّهِ اْلحُسْنىَ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْباَعِهِ اِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ ، أَمَّا بَعْدُ 

فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ. قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّرجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَالأَبْتَرُ

الله أكبر،الله أكبر،الله أكبر،ولله الحمد

Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah…

Membangun individu Indonesia yang tangguh, membangun keluarga Indonesia yang tangguh, membangun lembaga, membangun kota, membangun negara, yang tangguh, bisa belajar dari seluruh kisah Para Nabi dan keluarganya, dan juga orang-orang yang bersamanya. Menjadi apapun ia; pelajar, mahasiswa, pekerja, pengusaha, petani, pekebun, peternak, polisi, tentara, politisi, tenaga medis, pemimpin-pemimpin daerah dan negara;Menjadi anak, menjadi ayah, menjadi ibu, menjadi suami, menjadi istri, menjadi kakek, menjadi nenek, menjadi saudara, menjadi teman, menjadi murid, menjadi guru. Apapun. Siapapun. Dalam bidang apapun. Bisa belajar dari kisah Para Nabi dan keluarganya, dan yang bersama Nabi. Supaya bukan saja menjadi tangguh, tapi jadi yang terbaik, dan bermanfaat.

Termasuk dari pelajaran cara Allah membimbing, mengcoaching, para Nabi dan keluarganya, dan juga orang yang bersamanya. Bisa kita ikuti, bisa kita petik, dari semua kisah yang dikisahkanNya di dalam Kitab Suci. Banyak inspirasi. Banyak motivasi. Banyak pelajaran, pengajaran, hikmah, dan peringatan.

Misal kita belajar dari Nabi Ibrahim dan Keluarganya. Yang memang menjadi sentralsetiap kali Iedul Adha dan Musim Haji. Keluarga yang dengan izin Allah melahirkan prosesi haji dan umrah, dan juga berkurban. Yang dilaksanakan oleh seluruh muslim muslimah sedunia. [Qs. Al Baqarah 125].

 وَإِذۡ جَعَلۡنَا ٱلۡبَيۡتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمۡنًا وَٱتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبۡرَاهِي‍ۧمَ مُصَلًّىۖ وَعَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِي‍ۧمَ وَإِسۡمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيۡتِيَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلۡعَاكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

Nabi Ibrahim, meninggalkan Palestina yang subur banget, plus ada perdagangan yang dijalankan. Yang dagangannya melampaui kebutuhan lokal, alias bisa ekspor ke daerah lain. Meninggalkan Palestina menuruti Panggilan dan Seruan Allah. Menuju tanah yang tandus. Yang ga ada apa-apanya. Manusia ga ada. Hewan ga ada. Tumbuhan ga ada.

Dari sini aja, kita bisa metik pelajaran the Winner. Berhasil di daerah subur, biasa. Tapi membuka kota baru, meramaikan daerah yang begitu sepi, di situ tantangannya.

Nabi Ibrahim dan keluarganya memiliki Allah. Karena itu keyakinan dan ketenangannya luar biasa. Tidak bergantung dengan keadaan dan situasi yang emang selalu berubah, selalu berganti, dinamis, bisa ada bisa engga, bisa memudahkan bisa membuat sulit. Nabi Ibrahim dan keluarganya bergantung kepada Allah. Senantiasa berkomunikasi dengan Allah.

[Qs. Al Baqarah 126].

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِي‍ۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلاً ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ

Ditempatkan di perusahaan yang udah untung, biasa aja. Tapi ditempatkan di perusahaan yang merugi, di situ seninya. Bakal memimpin semua perusahaan cabang dan pusat, kelak. Menang sebab banyak fasilitas, biasa. Tapi menang, dengan peralatan sederhana, fasilitas sederhana, ini yang akan dicatat dunia. Ibrahim dan keluarganya, mengajarkan begitu banyak hal yang ga biasa.

Dalam hal berbisnis, atau kepengen sukses, kepengen jaya, kepengen berhasil. Seseorang memiliki keluarga yang hebat, turunan yang hebat, modal yang banyak, network yang luas, ilmu yang tinggi, pengalaman yang banyak… Asli. Ga ada yang bisa diceritakan. Ga banyak. Anak ketua dewan, jadi walikota. Ya biasa aja. Anak kapolres, jadi kapolda. Ya biasa aja. Anak Dandim, jadi  Pangdam, ya biasa aja. Anak pengusaha, buka pabrik, ya biasa aja.

Tapi ini, ada yang keluarganya biasa banget. Orang kebanyakan. Bukan turunan pesohor. Ga ada modal ga ada uang. Bahkan minus. Buat makan aja susah. Jaringan, atau network ya orang susah semua. Orang miskin semua. Ilmu sama pengalaman, ga ada. Tapi kemudian orang ini bertransformasi. Bener-bener berjuang. Jadi orang. Maka, perjalanan hidupnya akan jadi cerita, inspirasi, motivasi, ilmu, bagi banyak orang.

Ibrahim dan keluarganya, memiliki Allah. Allah ingin mengajarkan ke Ibrahim dan keluarganya. Dan mengajarkan ke kita semua, lewat Ibrahim dan keluarganya, bahwa kita semua memiliki Allah. Ada Allah. Lalu berkenan tunduk, taat, patuh, mendekat, dan mau minta sama Allah.

Bahkan ada satu epik, tentang zamzam.

Ibrahim diperintahkan meninggalkan Hajar dan Ismail bayi yang masih merah. Saya sedikit mengetahui dengan izin Allah, bahwa Allah bener-bener ingin menunjukkan Kuasa dan Kebesaran-Nya. Kira-kira kalimatnya, Wahai Ibrahim, biar Aku Yang Urus istri dan anakmu…

Hajar, yang sesungguhnya bingung, udah mah dibawa ke tempat yang begitu sunyi. Ga ada apa-apa. Lah, sekarang malah mau ditinggal. Mau jadi apa ini. Mau bagaimana. Tapi kualitas iman Siti Hajar juga luar biasa. Istri Nabi yang imannya kelas banget. “Wahai suamiku,” kira-kira begitu, “Jika ini adalah perintah Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Kemudian Ibrahim pergi tanpa menoleh… Sesuai perintah Allah. Tanpa melihat lagi ke belakang…

[Qs. Ibrahim 37].

رَّبَّنَآ إِنِّي أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡ‍ِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ

Kita pun kelak mengetahui. Kisah di balik zamzam dan Sa’i.

Siti Hajar berlari bukit Safa Marwah, 7x balik. Mencari makanan buat Ismail. Siapa yang sangka, kemudian di kaki Ismail lah makanan itu keluar. Berupa air zamzam yang hingga hari kiamat nanti rasany bakal masih ada. Wallaahu a’lam. Air yang kelak akan membuat Mekkah menjadi kota besar yang tidak ada matinya.

Banyak hal yang tidak biasa. Banyak hal yang ajaib. Termasuk ketika peristiwa Nabi Ibrahim dibakar…

[Qs. Al Anbiyaa 68].

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ

Yang terjadi adalah Kehendak Allah di atas segala-galanya. Api itu malah dingin dan menjadi tempat yang sangat nyaman buat Nabi Ibrahim, atas perintah Allah.

[Qs. Al Anbiyaa 69].

قُلۡنَا يَٰا نَارُ كُونِي بَرۡدًا وَسَلاَمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَاهِيمَ

Jika kita ikuti track Nabi Ibrahim, dalam soal iman, dalam soal believe, maka sesungguhnya akan banyak keajaiban yang terjadi buat kita. Kesebalikan dari segala sangkaan manusia dan bahkan sangkaan diri sendiri. Diusir dari kontrakan, malah kemudian bisa bangun banyak perumahan. Di pehaka, malah kemudian jadi pengusaha. Divonis mati, malah segar bugar dan panjang umur. Diitung bangkrut, malah beli-beli perusahaan baru. Ga diterima di perguruan tinggi negeri, malah kemudian dapat beasiswa di Eropa. Itungannya ga bisa punya anak, malah kemudian lahir kembar. Duit umrah, 1 orang, dipake buat nolong orang. Eh malahan bisa pergi haji sekeluarga. Doa-doa supaya bisa ngerenovasi rumah dan ngebangunnya. Eh malah rumah diseruduk truk yang blong remnya. Ternyata justru itulah jalan rumah kebangun. Sebab dengan izin Allah, dibangunkan baru oleh bos pemilik truk yang nabrak itu.

Gitu-gitu.

Keajaiban yang terbuka buat siapa yang percaya. Asal Tuhannya sama. Allah. Tuhan yang sama yang diimani oleh Nabi Ibrahim, keluarga, dan anak keturunannya.

[Qs. Al Baqarah 133].

أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِي‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰـهًا وَٰحِدًا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ

الله أكبر،الله أكبر،الله أكبر،ولله الحمد

***

Pada Iedul Adha ini, khatib bukan ingin mengisahkan sekedar kisah. Tapi ingin mengajak kawan-kawan semua menengok Kitab Suci-Nya.

Kemampuan khatib dan waktu, saat ini, terbatas. Secara waktu aja, ya ga bisa lama-lama. Kalau khutbah kelamaan, masalah.

Tapi jika kemudian kawan-kawan mau berinteraksi langsung, ke Kitab Suci-Nya, bisa mereguk tanpa batas. Lebih banyak lagi.  Tergantung waktu yang diberikan oleh kawan-kawan sendiri.

Pesan dari khutbah ini adalah tentang Qur’an.

Sungguh, luangkan waktu. Sangat dibutuhkan… Bukan saja oleh setiap individu dari negeri ini. Bahkan negeri inipun butuh melihat Kitab Suci. Qur’an sebagai cahaya yang nanti menerangi siapa yang membaca dan mempelajarinya.

[Qs. An Nisaa 174-175].

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَكُم بُرهَانٌ مِّن رَّبِّكُمۡ وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ نُورًا مُّبِينًا * فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَٱعۡتَصَمُواْ بِهِۦ فَسَيُدۡخِلُهُمۡ فِي رَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَفَضۡلٍ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَيۡهِ صِرَٰطًا مُّسۡتَقِيمًا

اللهأكبر،اللهأكبر،اللهأكبر،وللهالحمد

***

Sekarang saya ajak sedikit, melihat salah seorang keturunan Nabi Ibrahim. Yakni Nabi Yusuf. Nabi Yusuf putra Nabi Ya’quub. Nabi Ya’quub putra Nabi Ismail. Nabi Ismail putra Nabi Ibrahim.

Sebelumnya mari kita lihat Qs. Huud, ayat 120 dan 123. Betapa Qur’an itu luar biasa membesarkan hati, membesarkan pikiran, membesarkan perasaan. Menggembirakan, menguatkan, siapa saja yang mau berinteraksi dengan Al Qur’an. Di antaranya dengan dan melalui pengisahan para Nabi. Kita kelak belajar, seperti di awal khutbah, dari cara Allah mengcoaching, mentraining, mendidik, melatih, membimbing, para Nabinya. Untuk dipetik pelajaran oleh kita.

[Qs. Huud, ayat 120 dan 123].

وَكُلاًّ نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ وَمَوۡعِظَةً وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ * وَقُل لِّلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ٱعۡمَلُواْ عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنَّا عَٰمِلُونَ * وَٱنتَظِرُوٓاْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ * وَلِلَّهِ غَيۡبُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَإِلَيۡهِ يُرۡجَعُ ٱلۡأَمۡرُ كُلُّهُۥ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ

Sedikit melihat Surah Huud, sudah akan nampak nanti pengajaran dari Allah. Surah Hud, khususnya ayat-ayat terakhirnya, mengantar kepada Kisah Nabi Yusuf.

Semua Rahasia emang milik Allah. Dan segala urusan kembali kepada Allah.

Kita petik sebentar kisah Yusuf ‘alaihishsholaatu wassalaam.

Nabi Yusuf kecil, mendapat isyarah hebat, berita gembira, kabar yang bagus, mimpi yang indah… Bahwa Allah membuatnya disujudi, oleh 11 bintang, matahari dan bulan…

[Qs. Yuusuf ayat 4].

إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّي رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبًا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُهُمۡ لِي سَٰجِدِينَ

Tapi apa yang terjadi?

Nabi Yusuf malah menjadi korban “percobaan” pembunuhan.Bahkan bisa dibilang pembunuhan terencana. Ia, dalam tanda petik, diculik, dari tangan ayahnya sendiri, oleh saudara-saudaranya sendiri.

Saudara-saudara Nabi Yusuf yang mestinya mengasihi, menyayangi, membela, melindungi, malah kemudian membawa Nabi Yusuf ke Padang pasir, dan membuang Nabi Yusuf ke dalam sumur. Sumur bukan sembarang sumur. Tapi sumur yang tidak ada orang di sekitarnya, dan di Padang pasir pula. Beragam binatang buas; ular, kalajengking, dll, membuat Nabi Yusuf diperkirakan akan mati dengan sendirinya; plus kepanasan, kedinginan, kehausan, kelaparan.

Lihatlah…

Ga ada, Allah menjadikan para Nabi-Nya, menjadi orang-orang kecil dan lemah, dengan memanjakannya. Ga ada. Dari cara Allah mentarbiyahi, mendidik, Allah justru menggemblengnya dengan beragam ujian, beragam kesulitan, beragam persoalan, beragam permasalahan, beragam tantangan dan hambatan, dihadirkan pula musuh-musuh, yang justru hari-hari ini orang takut, marah, sedih, kalau diuji dengan ujian itu semua. Padahal, itu semua menguatkan, mengangkat derajat, menghebatkan, menjadi jalannya untuk maju, sukses, hebat… Dan menyempurnakan semua potensi diri…

Kita ini baru dijulidin, baru dibully, baru dikata-katai… Udah bete, udah bad mood, udah uring-uringan… Coba lihat Nabi Ibrahim… Dibakar api loh…

Dan kali ini… sekali lagi lihat Nabi Yusuf. Udah masuk ke urusan fisik. Yang membahayakan dan membinasakan. Tapi kemudian Nabi Yusuf melewati dengan sempurna. Bersama Allah, seperti kakek buyutnya, Nabi Ibrahim.

الله أكبر،الله أكبر،الله أكبر،ولله الحمد

***

Ada begitu banyak potensi di dalam diri manusia, yang akan keluar, “hanya” dengan dimasak lewat berbagai macam ujian. Kalau ga ada ujian itu, ga keluar dan ga matang itu potensi.

Nabi Yusuf, mendapat isyarah hebat, berita gembira, kabar yang bagus, mimpi yang indah… Bahwa Allah membuatnya disujudi, oleh 11 bintang, matahari dan bulan…

Kita kemudian lihat, eeehhhhhabis dapat berita itu, Nabi Yusuf malah masuk sumur. Semua saudaranya, bahkan Nabi Ya’quubnya, sempat percaya, bahwa Nabi Yusuf sudah tiada. Habis. Dibunuh. Terbunuh.

Lalu berjalanlah kisah.

Siapa yang menyangka, bahwa memang perjalanan untuk 11 bintang sujud kepadanya. Kepada Nabi Yusuf. Matahari dan bulan juga sujud kepadanya. Justru berawal dari sumur itu. Sumur yang gelap, sempit, berada di padang pasir; panas ya panas bener.  Dingin ya dingin bener.

Nabi Yusuf kemudian menjadi Raja. One of the Greatest King of Egypt.

Andai Nabi Yusuf tidak masuk sumur, perjalanannya menjadi raja, bisa jadi ceritanya berbeda. Mungkin aja takdirnya memang tetep jadi raja, kalau ga masuk sumur. Tapi raja yang cengeng. Karena jadi raja tanpa perjalanan kesukaran, tanpa perjalanan kesulitan, tanpa perjalanan kesedihan…Nabi Yusuf berbeda. Perjalanannya mengharu biru. Habis dari sumur pun, ia menjadi budak yang diperjualbelikan.

Ya. Budak.

Hilang sisi kemanusiannya.

Tapi sekali lagi, seperti yang Allah bilang, ketika Kisah Nabi Yusuf ini akan diperdengarkan kepada Nabi Muhammad, yang kemudian diperdengarkan lagi kepada kita, bahwa perjalanan menjadi budak itulah, yang mengantarkan Nabi Yusuf justru masuk istana.

Pintu masuknya Nabi kemudian menjadi raja, adalah pintu sumur dan budak.

Siapa yang mau kemudian menjadi Nabi Yusuf di episode sumur dan budak? Ga ada yang mau. Kita kan maunya di bagian yang enaknya aja. Ga mau prosesnya.

Di akhir-akhir masa Nabi Yusuf menjelang menjadi raja, masih dihajar pula oleh Allah, dengan Allah memenjarakannya, atas tuduhan perbuatan yang Nabi Yusuf tidak lakukan. Semua itu, menjadi pengantar Nabi Yusuf menjadi seorang raja terbesar sepanjang zaman. Hingga kemudian kisahnya, utuh bahkan dijadikan Nama Surah. Dengan namanya sendiri. Dan tidak ada Nabi lain diceritakan di kisah itu, hanya Nabi Yusuf dan seputar Nabi Yusuf.

Lalu lihatlah kita….

Banyak orang yang baperan. Bersedih. Bersungut-sungut. Kecewa. Marah. Memaki-maki. Putus asa. Putus harapan. Yakni saat hidupnya sedang “menjadi” Yusuf kecil. Saat ia mengalami kisahnya Yusuf. Padahal andai mau belajar dari kisah Nabi Yusuf, harusnya ia gembira. Bahwa kenikmatan, kemenangan, kegemilangan, kejayaan, kekayaan, keberhasilan, kesuksesan, barangkali sedang datang. Sebagaimana Nabi Yusuf. Jalan aja terus. Berproses aja terus. Hingga seperti Nabi Yusuf. Dari sumur jadi raja.

Punya impian punya toko yang lebih besar. Misalnya. Punya cabang beberapa toko di beberapa kota. Dan udah dapat kabar pula, bahwa tanah warisan orang tua, bisa dijual, sebelum orang tua wafat. Alias udah dibagi-bagi sebelum orang tua meninggal.

Tapi ujian sumur, datang. Alih-alih toko tambah banyak, malah terjadi sebaliknya. Toko kecilnya, terbakar. Musnah dengan seluruh dagangannya. Orang tuanya pun pas juga wafat. Dalam keadaan warisan kemudian menjadi sengketa keluarga. Tidak bisa dijual.

Tambah nelongso, bila ia sebelumnya ahli ibadah. Ahli puasa. Ahli zikir. Ahli baca Qur’an. Ahli sedekah. Ahli shalawat… Maka bisa jadi ia mengatakan, kenapa aku yang banyak amalnya, banyak ibadahnya, koq dapat kesusahan seperti ini? Aku yang berdoa supaya begini begitu. Malah dapat kesebalikannya? Mana Keadilan-Mu yaa Allah? Mana Kasih SayangMu yaa Allah? Mana Pembelaan-Mu, dan Pengabulan doa-doa dari-Mu.

Bisa jadi semakin ia meratapi keadaanya, maka ia dan keluarganya, semakin lumpuh. Sumur yang sebenernya tidak begitu dalam, malah ia semakin gali sendiri, sumur menjadi kubur.

Kalau belajar dari Kisah Yusuf… Kembali. Ga usahlah langsung di dan dari Surah Yusuf. Utuh 1 Surah. Cukup misalnya dari ujung Surah Huud tadi. 120 dan 123. Mestinya, orang ini, bisa mencontoh, mendekati, ketangguhannya Nabi Yusuf.

Begini… Bila Nabi Ya’quub, tangguh, wajar. Nabi Ya’quub adalah pria dewasa, yang sudah menjadi ayah, kenyang dengan pengalaman, banyak juga ilmu, dan seorang Nabi.

Tapi Nabi Yusuf? Biar gimana, saat masuk sumur, ia anak kecil.

Masa, kita ga mau belajar dari Nabi Yusuf?

Dan ini keren banget.

Jika Nabi Yusuf ga dipisahkan dari Nabi Ya’quub, kita ga bisa metik banyak hal banyak hikmah. Sebab tadi. Wajar. Ayahnya Nabi Yusuf, Nabi Ya’quub.

Seakan Allah berkata, owkey. Aku Akan Tunjukkan. Bahwa bukan karena Nabi Ya’quub. Tapi karena Aku.

Persis kakek buyutnya. Inget tadi di awal khutbah? Kalau Nabi Ibrahim masih ada, lalu Nabi Ismail bisa makan minum, ya bisa jadi kita bilang, ya Nabi Ibrahim, ada. Nah, ini Nabi Ibrahim dibikin ga ada. Buat penguatan kita juga. Ga soal ada duit ga ada duit. Sepanjang Allah, ada. Ga soal ada ayah apa engga. Ga soal ada kerjaan atau engga. Ga soal ada sodara yang bisa diandelin atau engga. Ga soal ada teman yang bisa bantu atau engga. Ga soal. Selama Allah, ada.

Nah pertanyaannya, Allah ada ga buat kita? Jangan-jangan ga ada duit, dan ga ada Allah pula.

الله أكبر،الله أكبر،الله أكبر،ولله الحمد

***

Nabi Yusuf sejak di sumur, ia tidak menyalahkan saudara-saudaranya. Tidak meratapi, rencana jahat saudara-saudaranya. Tidak menyesali perbuatan saudara-saudaranya. Dari tempat terpisah, Nabi Yusuf dan Nabi Ya’quub, menjalankan Qs. Huud ayat 120 dan 123…

Semua rahasia milik Allah. Terus aja buat orang yang jatuh ke sumur tadi, jualan. Apa halangannya? Gara-gara toko terbakar? Ga bisa jualan? Gara-gara barang musnah? Ga bisa jualan?

“Iya Ustaaadddzz… Tokonya ada cicilan, utangnya ga pake asuransi, utangnya bukan ke bank. Ke orang. Saya tetap harus bayar. Sementara ga bisa jualan. Barang yang terbakar pun, barang utangan. Barang puteran. Ya harus bayar. Darimana Ustadz duitnya?”

Ini namanya, udah mahmasuk sumur, terus jadi kubur.

Harusnya, ikuti Nabi Yusuf. Fa’buduu, watawakkal ‘alaih….

Terus aja jalan, dan tawakkal kepada-Nya. Jalan pasti akan diberikan Allah. Siapa tau, pelanggan-pelanggan malah kemudian belinya di rumah, jadilah kemudian terbuka sistem keagenan. Bukankah dulu ia meminta dan berdoa? Supaya punya toko banyak? Di banyak kota? Inilah Jalan-Nya. Inilah rahasia-Nya. Bisa jadi kemudian, ia malah jualan lebih dari sebelumnya. Datang jualan online, eCommerce dan MarketPlace yang kemudian malah jualan ke seluruh penjuru dunia. Menjadi Raja Toko, seperti Yusuf yang menjadi Raja Mesir.

Akhirnya hikmah datang. Coba kalau toko tidak terbakar, dan warisan tidak sengketa, niscaya, ia tetap aja jadi Raja Pojokan, pemilik kios biasa. Yang tidak menjemput pembeli. Hanya menunggu pembeli.

الله أكبر،الله أكبر،الله أكبر،ولله الحمد

***

Seorang pelajar, yang menjadi bintang di kelasnya. Menjadi bintang pula di sekolahnya. Menjadi juara di berbagai lomba… Sejak kelas dua, sudah dapat kabar, bakal dapat beasiswa di Malaysia. Di Universitas Tun Abdul Razak. Mendapat kabar pula sebagai kandidat beasiswa di al Azhar. Dan atau bisa memilih dengan yakin dan pasti dengan izin-Nya, ke UI, dan bahkan ke Madinah. Pelajar ini pelajar terbaik bahkan sekotanya. Dengan izin Allah. semua sudah menyalami. Seakan dunia sudah digenggamnya.

Tapi kemudian terjadi kesebalikannya.

Kepala Sekolahnya dulu, yang dengan semangatnya, akan ngurusin langsung, ke semua potensi dan peluang kampus dan beasiswa itu, lalu mengatakan kepadanya, dan kepada orang tua dan keluarga si pelajar ini, “Sudah, biar kami yang urus semuanya….”. Ternyata, di saat semua kawan-kawannya sudah ada yang mendapat kepastian ini dan itu, diterima di sini dan di situ, pelajar yang sudah dapat kabara 11 bintang, matahari dan bulan, merasa koq ga ada kabar apa-apa buat dia.

Ternyata, kepala sekolahnya dibuat lupa. Seluruh berkas pelajar terbaik ini, terkunci di lemarinya, hanya menjadi arsip. Sebab kepala sekolahnya, sungguhan lupa. Lupa bukan saja lupa ngirim dan lupa ngurus. Tapi lupa siapa pelajar itu… Ada sesuatu yang trjadi dengan kepala sekolah itu, di periode itu.

Pelajar itu menangis. Hilang semua kesempatan. Menyesal. Kenapa ga lanjut ngurus sendiri, bersama orang tua dan keluarganya? Malah percaya akan diurus oleh orang lain. Tapi ga mau percaya? Ya gimana? Wong yang ngomong adalah Kepala Sekolah.

Itulah sumur buat pelajar tadi…

Dan beragam kesulitan pun, masih datang. Beragam. Silih berganti. Hingga mengalami kisah seperti Yusuf ‘alaihishsholaatu wassalaam. Ia masuk penjara. Dua kali pula. Di penjara itulah ia mengganti nama seperti Yusuf yang dipelajarinya. Ia berganti nama menjadi Yusuf. Yang pada hari ini, diizinkan Allah, bisa berkhutbah di hari yang mulia, di hadapan semua jamaah yang mulia dan dimuliakan Allah.

Andai dulu tidak ada sumur, tidak akan ada keberuntungan hari ini. Sebagaimana Saudara-Saudaranya Yusuf, yang alih-alih disebut jahat, layak didendami, layak dibenci dan dimusuhi balik, di sepanjang hidupnya Yusuf. Malah kemudian Yusuf, sejak awal memilih berterima kasih. Dan percaya, bahwa mimpi di ayat 4 Qs. Yusuf, adalah berawal dari perbuatan Saudaranya, dan berawal dari Sumur. Nabi Yusuf kelak malah mengundangnya ke istana, menjamunya, dan menjadikan saudara-saudaranya itu orang-orang terbaiknya. Lalu pada ayat 100, barulah Yusuf menyadari, bahwa ayat 4 dulu, hari itu terjadi. Semua sujud kepada Yusuf.

Buat Yusuf yang hari ini di atas mimbar, maka kepala sekolah itu, dan semua yang sudah memenjarakannya, justru adalah orang-orang yang berjasa kepadanya.

الله أكبر،الله أكبر،الله أكبر،ولله الحمد

.

***

Semoga jamaah semua bisa mempelajari al Qur’an. Lalu kemudian al Qur’an menjadi cahaya baginya. Aamiin.

KHUTBAH KEDUA

الله أكبر  الله أكبر  الله أكبر الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.

الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ.

وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ  أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيْنَ.

 اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيْنَ

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Masjid