Connect with us

Sosok

Imam Sibawaih, Ahli Nahwu Tiada Banding

[JAKARTA, MASJIDUNA]—“Kitab Sibawaih” adalah karya cemerlang ketika asimilasi Arab dan non-Arab sudah lama berlangsung, namun belum menemukan kaidah yang yang tersusun rapih. Lahirnya kitab tersebut merupakan era baru perkembangan Bahasa Arab yang digunakan di seluruh dunia dan memudahkan untuk mempelajarinya hingga sekarang.

Adalah Imam Sibawaih yang menyusun kitab tersebut yang ditulis tanpa judul, tanpa pengantar bahkan tanpa penutup. Bahkan, terkesan sang penulis masih akan menambahkan. Tampaknya, dia tak menuntaskan karyanya karena keburu meninggal dunia.

Abu Basyar Amr bin Usman bin Qanbar adalah nama lengkap lelaki kelahiran Baidha, Persia yang hidup pada sekitar 137-177 Hijriyah.

Semula dia bukanlah ahli bahasa. Dia lebih bersemangat belajar ilmu hadits kepada sejumlah ulama besar seperti Hammad bin Salamah bin Dinar al- Basri (wafat 167 H). Namun ketika pada suatu hari menemukan kesulitan memahami beberapa hadits karena kemampuan Bahasa Arab nya yang terbatas, atas anjuran gurunya Sibawaiha kemudian mempelajari tata Bahasa Arab.

Justeru dari sinilah kehebatannya tampak. Dia mendatangi semua ahli Bahasa Arab. Yang paling lama adalah al-Khalil bin Ahmad bin Amr bin Tamim al-Farahidi, ahli Bahasa Arab dan nahwu paling terkenal di Basra ketika itu.

Bukan hanya itu, hubungan murid dan guru itu pun berlanjut hingga menghasilkan karya bersama yang digunakan sampai sekarang yaitu ilmu-al’arud (metrik).

Ketenarannya makin menjadi justeru setelah dia meninggal dunia. Karena semua karyanya menjadi pegangan para pelajar yang ingin memahami ilmu Bahasa Arab, hingga sejumlah pesantren di tanah air sudah ratusan tahun merujuk pada karya ulama ini.

Maka tidaklah berlebihan bila dia dijuluki “Sibawaih” yang berarti “Wangi Buah Apel”. Julukan ini merujuk kepada karya-karyanya yang monumental dan tiada bandingannya baik sebelum dan sesudahnya. Juga merujuk kepada perilaku dan akhlaknya yang lembut. Dan juga dia memang senantiasa menggunakan minyak wangi berbau apel.

Pada zamannya, dia juga dijuluki Imam min Aimmah an-Nuhah (salah seorang pemimpin dalam ilmu nahwu).

(IMF/foto: suarr.net)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok