Connect with us

Khazanah

Herbal Indonesia: Bisnis Lezat, Melimpah dan Barokah

[JAKARTA, MASJIDUNA]-–Kekayaan hayati di Indonesia sebenarnya peluang besar dalam bidang Pengobatan. Bahan dasar yang melimpah itu sudah lama dipergunakan sebagai makanan dan minuman yang menyehatkan, yang sering disebut herbal.

Dalam seminar Herbalpreneur yang bertemakan “Lezatnya Bisnis Herbal, Songsong Era New Normal” yang diadakan pada Jumat (26/6) lalu, terungkap bahwa herbal merupakan bisnis yang barokah. Seperti disampaikan Dr. Apt. Kintoko, M.Sc, bahwa minimal peluang pertama dalam bisnis herbal adalah menolong terhadap kita sendiri dan saudara – saudara terdekat di dalam menjaga kesehatan.

Herbal juga berpeluang diekspor ke negara – negara maju seperti Amerika dan Eropa terutama Jerman dan Perancis. Keunggulan Komparatif Indonesia menurutnya yaitu ada pada : Kuliner, Herbal, Farmasi, dan Jasad renik (Microorganisme) sebagaimana ia kutip dari studi banding DPR RI ke Australia, Amerika dan Swiss. “Estimasi besar omzet bisnis herbal tahun 2025 diperkirakan 23 trilyun, akan tetapi omzet 2016 dari gabungan pengusaha jamu nasional adalah 18 trilyun, artinya kenyataan di lapangan dapat menjadi lebih besar daripada estimasinya,” katanya.

Kekayaan herbal Indonesia sangat besar, memiliki 30.000 jenis herbal dan nomer 4 di dunia yang masih perlu banyak digali, dan berpeluang di pasar internasional.

Namun, dari 30.000 herbal tersebut belum memungkinkan untuk digali. Tapi setidaknya dapat menjadi 11 herbal pilihan Indonesia yang paling banyak dan dibutuhkan saat ini diantaranya : kunyit, sirih, jahe, kelapa, kumis kucing, pinang, sirsak, kencur, temulawak, meniran, mengkudu.

“Ada banyak teori herbal yang dapat dipakai oleh peserta ketika akan meracik herbal, karena itu ketika kita ingin bisnis herbal diharapkan memahaminya meski tidak harus mendalam, dimulai dari yang paling mudah dan sederhana,” ujarnya.

Jadi, kenapa bisnis herbal sangat lezat di Indonesia?Karena memenuhi 3 aspek yaitu bahan baku melimpah, pasar luas, dan bentuknya yang variatif.

(IMF/foto:peluangusahaterkini.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah