Connect with us

Ekonomi Islam

Ekonomi Global Lesu, Wisata Halal Makin Melaju

[JAKARTA, MASJIDUNA]— Sejumlah pelaku usaha pariwisata di Bali mendatangi Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Jakarta, Kamis (14/11/2019). Sengaja mereka datang menemui Menteri Wishnutama untuk mempertanyakan konsep wisata halal, yang pernah didengungkan Pak Menteri.

Pelaku usaha di Bali ingin meminta kejelasan agar tidak menimbulkan isu negatif. “Agar tidak bergulir tambah liar dan menimbulkan efek negatif bagi bisnis pariwisata secara umum, kami pikir harus ada tindakan holistik dan mampu membuat semua pihak dapat menerima klarifikasi atas isu tersebut,” kata Ketua Perkumpulan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya.

Pernyataan dari Gusti Agung tersebut bukan yang pertama. Sejumlah pelaku usaha di Danau Toba, Sumetera Utara pun pernah mempertanyakan hal yang sama.

Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) ternyata mencatat bahwa selama tahun 2019, memang banyak yang mempertanyakan sektor wisata halal di Indonesia.

Padahal, wisata halal sudah dipraktekan di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan. Setidaknya, pemerintah sudah menetapkan 10 daerah yang masuk kategori wisata halal atau yang biasa disebut “Moslem Friendly”, yaitu Aceh, Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pada tahun 2019, berdasarkan rating indeks dari Muslim Travel Index, Indonesia menempati urutan pertama di dunia destinasi wisata halal.

Dari sisi ekonomi, pada tahun 2020 masih akan terjadi pelambatan ekonomi dunia. Tapi trend wisata halal tidak akan meredup justeru makin meningkat.

“Tuntutan akan adanya konsep halal telah berkembang sangat pesat dan hal ini harus jadi pertimbangan utama dalam pengembangan wisata di Indonesia, ” kata Ketua PPHI Riyanto Sofyan, dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival 2019 yang berlangsung di Jakarta Convention Centre, Jumat (15/11/2019). Jadi, konsep wisata halal bukan arabisasi tapi berpegang pada nilai dan etika yang berlaku bukan hanya pada muslim tapi juga non-muslim. Acara ini berlangsung 12-16 November. (IMF, foto:liputanaceh.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Ekonomi Islam