Connect with us

Sosok

Di Bulan Rajab, Imam Syafii Lahir dan Wafat

[JAKARTA, MASJIDUNA]—Malam nanti sudah memasuki bulan Rajab, salah satu bulan dalam perhitungan dalam kalender Islam. Setiap memasuki bulan Rajab, media sosial diramaikan oleh anjuran untuk membaca doa yang diajarkan oleh Rasulullah. Doa yang pada intinya minta diperkenankan barokah dan sampai kepada Ramadhan, yang hanya tinggal dua bulan lagi. “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah dengan bulan Ramadhan.” Demikian doa yang biasa dibaca Rasulullah setiap memasuki bulan Rajab.

Namun, ada beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Rajab, salah satunya kelahiran dan kematian Imam Syafi’i, ulama besar yang pengaruhnya terasa sampai sekarang terutama di Indonesia.

Imam Syafi’i lahir pada 150 Hijriah, bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad Muhammad bin Idris As-Syafi’i. Dari jalur ayah ia punya nasab hingga kepada Nabi Muhammad.

Saat Imam Syafi’i lahir bertepatan dengan kematian dua ulama yaitu Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) dan Imam Jureij Al-Makky, seorang mufti Hijaz yang wafat di Mekah.

Nama Imam Syafi’i, buat masyarakat muslim di Indonesia sangatlah akrab. Salah satunya karena sebagian besar Islam Indonesia bermazhab Syfi’iyah. Kehebatan Imam Syafi’i tentu saja dalam bidang ilmu fiqih dan hadits. Salah satu kitabnya, Risalah al-Qadimah merupakan ilmu ushul fiqih yang ditulis secara sistematis.

Kehidupannya di Arab saudi, Yaman, Irak dan Mesir membuat dia sangat fleksibel dalam melihat sebuah perkara fiqih. Pengalaman bepergian itu membuat dia mampu menarik hukum dengan mempertimbangkan kearifan-kearifan lokal.

Kepandaiannya di bidang sastra juga sangat diakui. Apalagi dia tumbuh di Mekah, tempat para penyair banyak membuat karya. Ketekunan dan hasratnya yang menggebu pada pencarian ilmu menempatkan dia sebagai ulama yang luas pengetahuannya. Konon, dia pernah mengatakan bahwa hasrat dan cintanya kepada ilmu pengetahuan melebihi kenikmatan dalam berhubungan suami isteri. Hasrat dan cinta kepada ilmu itu pulalah yang menyebabkan dia menderita sakit wasir, karena sering berlama-lama duduk, hingga akhir hayatnya. Imam Syafi’i wafat dalam usia 52 tahun pada buan Rajab tahun 204 Hijriyah di Mesir.

(IMF/foto:bangkitmedia)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Sosok