Connect with us

Khazanah

Akademisi Kritik Rencana Sertifikasi Pra Nikah

[JAKARTA, MASJIDUNA] – Rencana pemerintah mewajibkan sertifikasi pra nikah bagi calon mempelai dikritik keras oleh publik. Gagasan ini lemah secara yuridis dan diprediksikan bakal menambah beban keuangan negara.

Peneliti Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hukum (Puskapkum) Panti Rahayu mengatakan rencana pemerintah mewajibkan sertifikasi pra nikah bagi calon mempelai akan membebani masyarakat dan beban keuangan negara. “Rencana sertifikasi pra nikah lemah dari sisi ide dan yuridisnya,” ujar Panti di Jakarta melalui siaran pers yang diterima MASJIDUNA, Selasa (19/11/2019).

Pengajar Hukum Perdata di Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya ini mengatakan semestinya pemerintah memaksimalkan aparat pemerintah untuk melakukan edukasi ke masyarakat dengan tanpa membuat narasi baru tentang sertifikasi pra nikah. “Padahal edukasi pra nikah merupakan tupoksi pemerintah dalam hal ini penyuluh agama. Mengapa peran itu tidak dimaksimalkan saja dengan melibatkan stakeholder lainnya seperti Kementerian Kesehatan,” tambah Panti.

Apalagi, imbuh Panti, jumlah penyuluh agama cukup memadai yakni penyuluh PNS sebanyak 6.226 dan penyuluh Non PNS 45 Ribu serta penghulu se-Indonesia sebanyak 6.638 orang. “Baiknya, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama manfaatkan sumber daya manusia yang ada serta perkuat SDM mereka. Karut marut di sektor perkawinan semestinya menjadi tupoksinya,” ingat Panti.

Dia menyayangkan narasi sertifikasi pra nikah yang telah membuat gelisah masyarakat di bawah. Menurut dia, praktik pernikahan dini dan penyimpangan dalam praktik pernikahan emestinya tak bisa terjadi jika masyarakat jika semua pihak taat ada aturan yang berlaku. “Pertanyaannya mengapa pernikahan dini masih bisa terjadi,” kata Panti.

Ia mendorong Kementerian Agama melakukan audit secara menyeluruh terhadap para penyuluh agama khususnya dalam hal penyuluhan terhadap pernikahan. “Penyuluh agama harus dipastikan paham secara menyeluruh mengenai pernikahan baik syarat dan rukun pernikahan termasuk pendidikan pra nikah ini,” tegas Panti.

Kualitas penyuluh agama diharapkan menjadi garda terdepan untuk melakukan edukasi pra nikah kepada calon mempelai. “Kami sarankan, daripada pemerintah sibuk mewacanakan sertifikasi pra nikah, lebih baik pemerintah lakukan evaluasi kepada para petugas di lapangan, up grade pengetahuan mereka agar kehadiran mereka dirasakan nyata oleh masyarakat,” tandas Panti.

Alumnus Pascasarjana FH Universitas Indonesia (UI) ini mendorong agar Kementerian Agama dapat memaksimalkan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat tak terkecuali seperti Badan Penasehatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4). “Saya kira kolaborasi pemerintah dengan pihak lainnya termasuk BP4 dapat dioptimalkan kembali. Poinnya pemerintah jangan lagi membebani masyarakat. Baiknya maksimalkan SDM yang ada dan perluas kolaborasi dengan berbagai pihak,” tandas Panti.

Di bagian akhir, pihaknya menentang jika program sertifikasi pra nikah ini bakal menimbulkan mata anggaran baru untuk pengadaan sertifikat bagi calon mempelai. “Konsekwensi adanya sertifikat pra nikah bisa saja akan menimbulkan pengadaan sertifikat. Di poin ini yang akan menimbulkan beban baru bagi keuangan negara. Ini harus ditolak,” tegas Panti.

[RAN/ Foto: http://magicalweddingsuryadella999.blogspot.com/]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Khazanah